Paris Mootilango Litigasi.id – Pelatihan keamanan pangan bagi penjamah dan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paris, Kecamatan Mootilango, digelar Jumat, 19 Desember 2025, sebagai upaya memastikan kesiapan operasional pelayanan gizi bagi masyarakat.
Kegiatan pelatihan ini diikuti 50 peserta yang merupakan anggota SPPG Kecamatan Mootilango, dengan fokus peningkatan pemahaman standar keamanan pangan sebelum unit layanan tersebut mulai beroperasi secara penuh.
Pelatihan diselenggarakan oleh Yayasan Kumala Vaza Group bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, dengan menghadirkan Ketua Tim Healthy Food Inspector (HFI) Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo sebagai pemateri utama.
Kepala SPPG Paris Kecamatan Mootilango, Zulkipli Barajanji, S.T., menyampaikan bahwa seluruh persiapan fasilitas dan sumber daya manusia telah rampung dan siap digunakan dalam waktu dekat.
“Persiapan SPPG Paris saat ini sudah 100 persen, mulai dari bangunan, kendaraan operasional hingga kesiapan dapur. Kami siap mulai beroperasi paling cepat 5 Januari, bertepatan dengan masuknya anak-anak sekolah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebanyak 47 penjamah makanan dari total 57 personel telah mengikuti pelatihan intensif selama delapan jam yang mencakup kebersihan perorangan, proses pengolahan, persiapan pangan, serta penerapan standar operasional prosedur.
“Harapan kami, setelah pelatihan ini seluruh penjamah makanan benar-benar siap secara mental dan teknis sehingga pelayanan gizi dapat berjalan aman, sehat, dan maksimal,” tambah Zulkipli.
Sementara itu, Ketua Tim HFI Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Rusdy Miolo, S.KM., M.Kes., menegaskan bahwa pelatihan ini mengacu pada regulasi nasional terkait keamanan pangan.
“Pelatihan ini bertujuan memastikan penjamah dan pengelola pangan memahami serta menerapkan standar keamanan pangan sesuai amanah Permenkes Nomor 14 Tahun 2021 dan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023,” jelasnya.
Rusdy menyebutkan, enam materi utama diberikan kepada peserta, meliputi kebijakan pangan, cemaran pangan, pembersihan peralatan, vektor penyakit, higiene perorangan, serta tahapan proses pengelolaan pangan.
Untuk memastikan efektivitas pelatihan dengan jumlah peserta yang cukup besar, tim menerapkan metode pre-test dan post-test sebagai alat ukur capaian pemahaman peserta.
“Hasil post-test menunjukkan seluruh peserta mencapai nilai di atas 80 persen. Kami berharap materi ini benar-benar diterapkan saat SPPG mulai beroperasi untuk melayani sekitar 1.000 siswa,” pungkasnya.
Dengan selesainya pelatihan ini, SPPG Paris Mootilango dinyatakan siap memasuki tahap operasional sebagai bagian dari upaya pemenuhan gizi masyarakat secara aman, sehat, dan berkelanjutan.















