PULUBALA, LITIGASI.ID – Jembatan Molamahu, penghubung Desa Molamahu dengan pusat Kecamatan Pulubala, mengalami kerusakan serius dan kini dalam kondisi miring. Pada Selasa, 13 Januari 2026, struktur tersebut terlihat ditopang bambu rapat di tengah aliran sungai deras.
Kepala Desa Molamahu Tariyono Ahaya menjelaskan, kerusakan bermula sejak akhir Desember lalu. “Awalnya hanya bagian sayap jembatan yang roboh, belum terjadi sekaligus,” ujarnya sambil menunjuk fondasi yang pertama kali runtuh.
Menurut Tariyono, setelah sempat dilakukan antisipasi, terjadi insiden kedua yang menyebabkan posisi jembatan berubah miring. Kondisi ini mengancam akses transportasi warga menuju pusat kecamatan, terutama bagi pemilik lahan di wilayah Mula.
Menghadapi situasi darurat, masyarakat bergerak melakukan swadaya. Warga tampak bergotong royong di alur sungai berlumpur, menyusun bambu secara manual. Tariyono menyebut inisiatif didorong tokoh masyarakat Arman Ahaya yang dengan gigih membantu materil, tenaga dan fikiran sehingga masyarakat bahu membahu melakukan swadaya murni demi perbaikan jembatan.
“Kami tidak bisa menunggu terlalu lama, jembatan ini sangat vital,” kata Tariyono Ahaya. Ia menambahkan turut menunjang materi, pikiran, bahkan tenaga, sekaligus menjadi motivator agar warga mau berpartisipasi aktif.
Namun, tenaga manual dinilai belum cukup mengamankan hasil kerja lapangan. Sebuah excavator kemudian didatangkan dan terlihat melakukan pengerukan serta penataan alur sungai guna mengantisipasi abrasi lanjutan.
Tariyono Ahaya mengungkapkan, bantuan alat berat berasal dari Anggota DPRD Provinsi Feni Rosdiana Anwar dan Wakil Bupati Toni Yunus dari Fraksi PDIP. Awalnya hanya tiga hari, lalu ditambah satu hari menjadi empat.
“Saya sempat berharap bantuan dari BPBD atau Dinas PU, mereka dan Balai Sungai juga sudah datang, tapi belum ada anggaran karena akhir tahun,” jelas Tariyono di lokasi.
Saat ini, proses penimbunan masih berlangsung dengan kebutuhan sekitar 50 hingga 80 rit material. Batu-batu besar diletakkan di bagian bawah sebagai fondasi dasar penahan sementara sebelum ditimbun tanah.
Di sekitar jembatan, rumah warga yang berdiri dekat bantaran sungai tampak rawan longsor. Tebing yang tergerus air diperkuat dengan timbunan baru dan dinding penahan darurat.
Gotong royong terus berlanjut. Warga bersama aparat desa, termasuk Rustam Suleman, Andi Nasir, terlihat bahu-membahu di tengah aliran sungai. “Ini hanya penanganan sementara,” kata Tariyono, berharap pemerintah segera memberikan solusi permanen berupa bronjong agar jembatan tidak ambruk total.















