BILATO, LITIGASI.ID – Banjir bandang kembali melanda Desa Totopo, Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo, pada Selas (malam) hingga Rabu dini hari, akibat tingginya curah hujan yang memicu luapan Sungai Totopo dan jebolnya tanggul sungai yang telah lama rusak.
Banjir terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak sekitar pukul 16.00 WITA hingga malam hari. Debit air yang terus meningkat membuat Sungai Totopo tidak mampu menampung aliran air, sehingga meluap dan menggenangi permukiman warga.
Kepala Desa Totopo, Iwan Noho, menjelaskan bahwa banjir dipicu oleh curah hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa jam berturut-turut. Menurutnya, air sungai mulai meluap sejak sore hari dan mencapai puncaknya pada malam hari.
“Curah hujan terlalu tinggi, mulai sekitar jam empat sore sampai malam. Debit air sangat besar sehingga Sungai Totopo tidak mampu menampung dan terjadi jebolnya tanggul,” kata Iwan Noho saat ditemui di lokasi banjir.
Ia mengungkapkan, terdapat dua titik tanggul yang jebol, masing-masing berada di depan Kantor Camat Bilato dan di area lapangan Desa Totopo. Kedua tanggul tersebut sebelumnya sudah pernah mengalami kerusakan dan hanya ditangani secara darurat menggunakan karung berisi tanah.
“Memang sebelumnya sudah ada penanganan, tapi sifatnya hanya sementara, menggunakan karung tanah. Karena debit air terlalu besar, tanggul itu tidak mampu menahan,” ujarnya.
Akibat banjir tersebut, sekitar 56 rumah warga terendam dengan jumlah warga terdampak mencapai sekitar 150 kepala keluarga (KK). Banjir berlangsung sejak sekitar pukul 18.00 WITA hingga pukul 23.00 WITA.
Meski air masuk ke rumah-rumah warga, Kepala Desa memastikan tidak terjadi kepanikan di tengah masyarakat. Hal itu karena pemerintah desa telah lebih dulu memberikan peringatan melalui pengeras suara masjid.
“Saya sudah umumkan lewat pengeras suara di masjid agar warga bersiap-siap karena air kemungkinan naik. Alhamdulillah masyarakat tidak panik,” jelasnya.
Dalam penanganan awal, Pemerintah Desa Totopo bersama pemerintah kecamatan mengambil langkah darurat dengan menyalurkan bantuan makanan kepada warga terdampak. Persediaan makanan yang awalnya disiapkan untuk kegiatan zikir bersama dialihkan dan dibagikan kepada masyarakat korban banjir.
“Persediaan makanan kami bagikan kepada warga terdampak. Bantuan berupa paket nasi kami salurkan kepada 56 kepala keluarga, dan itu bersumber dari dana PBH bantuan Pemerintah Kabupaten Gorontalo,” kata Iwan.
Ia menambahkan, sebagian bantuan juga kembali dibagikan pada pagi hari setelah banjir mulai surut.
Terkait koordinasi dengan pemerintah daerah, Kepala Desa mengakui sempat mengalami kendala komunikasi akibat jaringan seluler terputus saat banjir berlangsung. Namun laporan tetap disampaikan melalui pemerintah kecamatan.
“Saat kejadian sinyal putus, tapi kami sudah laporkan melalui pihak kecamatan. Pak Camat juga sudah menghubungi BPBD Kabupaten Gorontalo,” ujarnya.
Iwan Noho berharap pemerintah daerah dapat segera melakukan penanganan permanen terhadap tanggul Sungai Totopo yang telah rusak sejak tahun 2019.
“Tanggul ini sudah lama jebol. Harapan kami ada penanganan maksimal, seperti pembangunan tanggul permanen dan bronjong, agar banjir tidak terus berulang,” katanya.
Sementara itu, Mantan Kepala Desa Totopo, Masykur Adam, menyebut banjir kali ini tergolong paling besar dibandingkan kejadian sebelumnya. Ia mengatakan banjir bandang datang secara tiba-tiba sekitar pukul 21.00 WITA, sehingga sebagian warga tidak sempat bersiap.
“Hujan mulai turun sejak sore, dan sekitar jam sembilan malam banjir bandang datang tiba-tiba. Ini banjir cukup besar, bahkan melewati jalan nasional,” ujar Masykur.
Menurutnya, sumber utama banjir berasal dari tanggul Sungai Totopo yang telah lama dikeluhkan masyarakat namun belum mendapat perbaikan permanen dari pemerintah daerah.
“Tanggul itu sudah lama rusak dan sering jebol. Saat saya masih menjabat kepala desa, sudah pernah diajukan proposal penanganan, tapi sampai sekarang belum ada perbaikan maksimal,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa penanganan yang selama ini dilakukan hanya bersifat darurat, berupa penimbunan pinggir tanggul dan pemasangan karung pasir, sehingga tidak mampu menahan banjir besar.
“Kalau banjir besar, karung pasir itu jatuh lagi ke sungai dan longsor. Jadi air langsung masuk ke pemukiman warga,” jelasnya.
Masykur menyebut sekitar 30 hingga 38 rumah di wilayah bawah permukiman terdampak langsung oleh banjir bandang tersebut. Ia juga mengaku hingga saat wawancara dilakukan, belum melihat kehadiran pemerintah daerah di lokasi bencana.
“Sampai sekarang kami belum melihat pemerintah daerah, BPBD, atau Tagana hadir. Warga membersihkan rumah masing-masing dengan alat seadanya,” ungkapnya.
Ia berharap kejadian banjir bandang ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar perbaikan tanggul Sungai Totopo menjadi prioritas utama.
“Kalau tanggul ini tidak diperbaiki secara permanen, banjir pasti akan terus terjadi dan sasarannya selalu pemukiman warga,” pungkasnya.
Dalam peristiwa banjir bandang ini, tidak dilaporkan adanya korban jiwa, namun kerugian material serta dampak sosial dirasakan cukup besar oleh masyarakat Desa Totopo. Pemerintah desa dan warga berharap adanya langkah cepat dan penanganan jangka panjang dari pemerintah daerah guna mencegah banjir serupa terulang di masa mendatang.















